­­­­­­­

POLA BIOGEOGRAFI MAMALIA PADA ZAMAN (Period) KUARTER

PRATIWI (3415076919)    PEND. BIOLOGI NON REG2007

Berbicara mengenai pola biogeografi mamalia pada period kuarter, terlebih dulu akan dibahas mengenai period kuarter itu sendiri. Berdasarkan skala waktu, pada awalnya era Cenozoic dibagi menjadi period Kuarter dan period Tersier serta sub-era Neogen dan sub-era Paleogen pada period Tersier. Namun, International Commisison on Stratighraphy meniadakan istilah Kuarter dan Tersier dalam tata nama formal. Jadi, sebenarnya era Cenozoicum dibagi menjadi period Kuarter dan period Tersier. Dibeberapa sumber lain dinyatakan bahwa era Cenozoic dibagi menjadi 3 period, yaitu Paleogene, Neogene dan Kuarter.

Period Kuarter
Epoch (zaman) Pleistosen Epoch (zaman) Holosen
Awal, Pertengahan, Akhir Preboreal, Boreal, Atlantic, Subboreal, Subatlantic

 

www.dep.state.fl.us/geology/geol…cale.htm

Secara umum era Cenozoic mempunyai kondisi yang dingin dan kering dari pada era Mesozoic, walaupun pada awal periode relatif hangat. Seperti yang tergambar dalam table di atas, zaman Kuarter terbagi atas zaman Pleistosen dan zaman Holosen.

Menurut Giovanni Arduino pada tahun 1759 di Itali Utara. Kemudian diperkenalkan oleh Jules Desnoyers pada tahun 1829, beradasr atas sedimen France’s Seine yang dilihat dengan jelas bahwa period Kuarter berumur lebih muda dari period  Tertiary. Period Kuarter dibagi atas dua zaman es yaitu, Pleistosen dan Holosen. Zaman ini dimulai dari pembentukan es di belahan bumi bagian utara, kira-kira 2,6 juta  yang lalu.

Selanjutnya yang menjadi ciri dari era Cenozoic adalah bertambahnya es di tiap kutub, puncak dari zaman es pada saat dimulainya zaman Pleistosen. Zaman es ini tidak hanya berpengaruh pada evolusi mamalia secara umum di era Cenozoic tetapi juga evolusi manusia.

Awal Zaman es dimulai kira-kira 1,8 juta tahun yang lalu, pada saat awal periode Neogene. Zaman es terbentuk ketika iklim pada saat itu cukup dingin. Salju mulai terakumulasi tahun demi tahun. Secara terus menerus salju menumpuk dan menyebabkan sinar matahari yang memancar ke bumi di pantulkan kembali. Hal tersebut mengakibatkan kondisi saat itu menjadi lebih dingin. Bertambahnya dingin menyebabkan terakumulasinya banyak salju dengan sedikitnya pencairan. Ini merupakan siklus hebat yang menyebabkan terbentuknya lempeng-lempeng es yang tebalnya lebih dari 1 mil (1 mil= 1693 km).

Pada saat ini gletser hanya berada di daerah kutub dan di puncak gunung. Namun, pada saat zaman Plestosen, kemungkinan tebalnya massa es mencapai 3-4 kilometer yang menutupi sebanyak 30% dari daratan dan diperluas ke arah selatan dibagian Amerika Utara.

Daratan es yang terbentuk pada zaman Pleistosen memberikan efek yang besar pada iklim dunia, tidak hanya sekedar adanya es yang menutupi garis lintang yang tertinggi. Walaupun ada buku popular yang menggambarkan perjuangan mammoth dalam membebaskan dirinya dari keberadaan es, sebenarnya daratan es tersebut memiliki peranan yang cukup bagi hewan dalam migrasi ke arah ekuator (Pough F. H. et al., 2005).

Selanjutnya mengenai biogeografi mamalia di era Cenozoic, dimana terjadi pada saat adanya pemisahan masa benua. Pemisahan ini terjadi dengan proses fisik daratan benua itu sendiri dibandingkan dengan perpindahan hewan dengan sendirinya, hal seperti itu disebut dengan vicarians. Adanya perbedaan dari distribusi mamalia saat ini, merupakan hasil dari biogeografi vicarians. Dimana hawan dan tumbuhan terbawa secara pasif pada saat perpindahan massa. Pola lain dari distribusi mamalia dapat dijelaskan dengan dispersal, dimana perpindahannya dilakukan oleh hewan itu sendiri, biasanya dengan pemisahan populasi dari pada perpindahan jarak jauh per individu. Misalnya, kehadiran dari Marsupials di Australia rupanya cukup mewakili contoh hewan yang mengalami dispersal dari Amerika Selatan melalui Antartika pada awal Cenozoic (Pough F. H. et al., 2005).

Pada period Kuarter karena terjadi peristiwa glasiasi, maka penyebaran mamalia berlangsung secara dispersal. Dimana, mamalia tersebut melakukan migrasi. Terjadinya migrasi dapat dikarenakan  adanya kecenderungan dasar yang menyebabkan hewan meninggalkan tempat lahirnya karena banyaknya keturunan yang diproduksi sehingga habitat aslinya tidak dapat menampung keberadaan dari seluruh hewan tersebut, faktor sumber makanan, ketersediaan air, oksigen, dan suhu optimum (Noland dan Beaver, 1975).

Akibat glasiasi tersebut, hewan-hewan terestrial mendapatkan kemudahan dalam melakukan migrasi. Terbentuk “land bridge” yang mengubungkan antara daratan satu dengan lainnya, yang sebelumnya dipisahkan oleh laut. Di Asia Tenggara, proses glasiasi menyebabkan terbentuknya daratan penghubung antara wilayah Indocina dengan Sundaland di semenanjung Thailand. Sedangkan di Amerika, glasiasi menyebabkan terbentuknya daratan penghubung antara Amerika Utara dan Selatan di daerah semenanjung Panamanian. Penyebaran-penyebaran tersebut dapat di jelaskan dengan adanya penemuan-penemuan fosil di tiap lapisan tanah yang menggambarkan umur dari bumi. Kejadian suatu masa dapat diketahui melalui lapisan-lapisan tanahnya.

Penyebaran mamalia pada period Kuarter banyak tergambarkan pada saat proses glasiasi terjadi, yaitu pada zaman es (Pleistosen). Biogeografi dan rute migrasi dari hewan mamalia besar di Asia tenggara akhir pertengahan Pleistosen fokus pada fosil dan data-data dari Thailand. Thailand merupakan negara yang berperan di Asia Tenggara karena lokasinya yang berbatasan dengan Indocina dan Sundaland yang merupakan daerah biogeografi utama di Asia Tenggara. Terdapat perbedaan yang sangat jelas anatar Indocina ( Thailand Utara, Cina Selatan, Myanmar (kecuali Burma), Vietnam, Laos, dan Kamboja) dan Sundaland (Sebelah Selatan Thailand, Malaysia, Sumatra, Java dan Borneo)(Lekagul dan McNeely, 1988 dalam Tougard, 2001), yaitu menurut iklim, tumbuhan dan hewannya. Batasan antara keduanya terdapat di semenanjung Thailand di Tanah Genting Kra (Tougard, 2001).

Dari data-data hewan di Asia Tenggara memasukkan 129 spesies dari mamalia besar (Primata, Karnivora, Proboscidea, Perissodactyla dab Artiodactyla). Diantarnya, 53 spesies dari mamalia besar (41%) merupakan kecenderungan Indocina, mengingat 44 spesies (34%) cenderung ke Sundaland. Mamalia besar di Indocina dan Sundaland menunjukkan memiliki kesamaan diantara keduannya daripada dibandingkan dengan Kepulauan Philipina yang merupakan wilayah Wallacean (Heaney, 1985 dalam Tougard, 2001).

 

 

 

Hewan-hewan dai Lang Trang memiliki kesamaan dengan hewan di Indonesia pada saat akhir Pleistosen, spesialnya terjadi di Sumatra (Lida Ajer dan Simbarang), Jawa (Punung), dan Borneo (Niah). Akan tetapi, ada hewan-hewan yang dikategorikan punah (tidak ditemui di Indonesia), seperti S. orientalis, seperti halnya Urus thibetanus dan A. melanoleuca. Di sisi lain, S. Barbatus dan Bos javanicus juga tidak ditemukan di Lang Trang. Di Tambun (Semenanjung Malaysia) dan Ngandong (di Jawa), seperti Stegodon trigonocephalus, Hexaprotodon sivalensi, S. Macrogngathus, Homo erectus, E. namadicus, Duboisia sateng dan beberapa lainnya. Keadaan ini berhubungan dengan hewan-hewan di Siwalik yang lebih awal melakukan rute migrasi (awal ke pertengahan Pleistosen) yang disebut dengan rute “Siva-Malayan” (von Koenigswald, 1935 lihat Tougard, 2001).

Study terakhir tentang hewan pertengahan akhir Pleistosen dari Thailand Utara menunjukkan bahwa penggolongan mengacu ke angka penting di Indocina jika dibandingkan dengan Sundaland. Selain itu, penggolongan hewan terjadi khususnya pada hyena; C. crocuta ultima, panda; A. melanoleuca baconi dan orang utan; P. pygmeus. Spesies-spesies ini menyebar selama akhir pertengahan Pleistosen di bagian Utara dari Asia Tenggara. Di sisi lain mereka tidak ditemukan di Thailand lagi. Distribusi yang terjadi hanya dibatasi pada luas benua yang kecil. Hyena yang berbintik, Crocuta crocuta hanya ditemukan di Afrika (Selatan gurun Sahara)(Nowak, 1999 lihat Tougard, 2001). Habitat dari panda besar, A. melanoleuca dibatasi di gunung Cina Selatan, sebaliknya orang utan hanya berada di Sumatra dan Borneo. Merujuk pada Kurten (1956) lihat Tougard (2001), C. crocuta ultima dan Hyaena brevirostris sinensis awalnya berada di Cina Selatan dan mereka punah pada saat terjadinya glasiasi. Di sisi lain, suhu dingin yang menyebabkan menurun altitude dari di vegetasi gunung, yaitu spesies bambu (Zheng dan Lei, 1999 lihat Tougard, 2001). Di sini spesies teresbut mampu menutupi area dataran rendah. Ini memudahkan terjadinya migrasi menuju ke selatan oleh A. melanoleuca baconi, yang bisa hidup dari tanaman bambu (Tougard, et al., 1996 lihat Tougard, 2001).

Berbicara mengenai perpindahan mamalia, selain terjadi di sekitar Asia, ada juga pada beberapa ordo dari mamalia yang penyebarannya terjadi di sekitar wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan. Sebagai contoh, Texas Selatan memiliki catatan fosil terkaya untuk akhir era Cenozoic. Setidaknya ada 18 genus yang punah dan 27 fosil spesies mamalia yang telah punah dan diketahui hanya dari akhir Pleistosen. Beberapa darinya merupakan partisipan di peristiwa utama pada evolusoner yang dikenal sebagai the Great American Biotic Interchange, yang muncul dari pembentukan jembatan tanah Panamanian antara Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Selama akhir Pliocene dan awal Pleistosen, setelah penyelesaian dari “land bridge” (jembatan daratan) Panamanian, cukup mewakili dari 17 famili mamalia yang bermigrasi ke selatan dan 10 yang bermigrasi ke utara (Webb, 2006 dalam Baskin, 2007). Beberapa hewan yang bermigrasi cukup mewakili di catatan fosil pada akhir Pleistosen di Texas Selatan, yang memasukkan setidaknya 18 genus yang punah dan 27 spesies yang punah pada mamalia Pleistosen (Baskin 2007).

Ordo Xenarthra yang juga dikenal sebagai edenta, yang termasuk di dalamnya kukang, trenggiling dan armadillos (binatang pemakan serangga). Kukang Mylodont dan Megalonychid masuk ke Amerika Utara pada saat 8 Ma (Marshall et al., 1979 dalam Baskin, 2007), sebelum pembentukan dari “land bridge”  Panamanian. Dua dari famili mereka, Paramylodon harlani dan Megalonyx jeffersonii, keduanya menyebrangi Amerika Utara, mewakili di Texas Selatan.

Lain lagi halnya dengan Capybaras yang merupakan rodensia terbesar, ditemukan di Selatan dan Tengah Amerika. Pada zaman es, mereka memperluas pergerakannya, dari Aizona ke Florida ke Carolina Selatan (Baskin, 2007).

Hewan ordo Artiodactyl, Camelids pada awalnya berkembang di Amerika Utara di akhir Eocene. Pada saat Pleistocen, mereka berpidah ke Asia dan Afrika (yang kemudian dikenal dengan Camel) dan ke Amerika Selatan (Ilamas) dan punah di Amerika Utara (Baskin, 2007).

Ordo Perissodactyl setidaknya ada 3 spesies dari Equus yaitu kuda, zebra dan keledai yang ada di Texas Selatan pada akhir Pleistocen (Baskin da Mosqueda, 2002 dalam Baskin, 2007). Equus berkemang di Amerika Utara, kemudian punah pada saat dunia baru 10.000 tahun yang lalu. Tapir yang primitif pemakan rumput,  saat ini ada di hutan tropis dan subtropis dari utara sampai Tengah Amerika ( sana seperti di Asia Tenggara). Tapir muncul di Amerika Selatan 2 Ma, setelah beremigrasi dari Amerika Utara selama Pleistosen. Mereka kurang cocok dengan kondisi di Amerika Selatan. Tapir terakhir yang ada pada Amerika Utara adalah Tapirus veroensis (Baskin, 2007).

Pada Ordo Proboscidean, tiga famili dari gajah ada di Amerika Utara selama Peistosen. Mammoth kekerabatannya dekat dengan gajah, tinggal dan masuk ke Amerika Utara dari Eurasia pada saat Pleistosen. Mastodonts hadir di Amerika Utara pada pertengahan Miosene.

Sebagai suatu pemikiran, bahwa gajah modern yang ada di Afrika dan India, dimungkinkan asli dari Asia tetapi fossil awal dari Proboscidea ditemukan di Afrika. Diawali oleh keberadaan Palaeomastodont di zaman antara Eosen akhir dan Oligosen awal, selanjutnya Gomphoterium pada akhir Oligosen dan awal Miosene. Selanjutnya ditemukan Anancus di akhir Pliosen dan awal Pleistosen.

Gompthotheres merupakan hewan yang cara makannya gabungan anatara Mammut (mastodont) yang pemakan tunas-tunasan dan Mammuthus (mammoth) yang memakan rumput. Hanya Gomphoteres yang menyebrangi “land bridge” ke Amerika Selatan. Cuvieronius tiba di Amerika Selatan di awal Pleistosen (Baskin, 2007). Pada saat zaman es, ditemukan Mammoth, Mammut dan Stegodon. Spesies-spesies  tersebut punah, dan hanya gajah Asia dan gajah Afrika yang masih ada sampai saat ini. Berikut adalah fosil-fosil Proboscidean yang di temukan di Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Gambar ini menunjukkan bahwa nenek moyang dari gajah modern saat ini berpindah mengelilngi bumi.

 

 

http://www.evolutionsanparks.org

DAFTAR PUSTAKA

Baskin, J. A., and R.G. Thomas. 2007. South Texas and the Great American Interchange: Gulf Coast Association of Geological Societies transaction. V. 57, p. 37-45. Department of Biological and Health Sciences, Texas A&M University – Kingsville, Kingsville, Texas 78363.

Tougard, C. 2001. Biogeography and Migration Routes of Large Mammal Faunas in South-East Asia during the Late Middle Pleistocene: Focus on the Fossil and Extant Fauna from Thailand. Journal of Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology 168 (2001) 337-358. France.

Noland, G. B. and Beaver, W. C. 1975. General Biology; ninth edition. Saint Louis: The C. V. Mosby Company.

Pough, F. Harvey et al., . 2005. Vertebrate Life; Seventh edition. New Jersey. Pearson Prentice Hall.